Gejala,
Penyebab & Faktor Risiko Anhidrosis
AMAZINE.CO - ONLINE
POPULAR KNOWLEDGE
Baca juga
Anhidrosis adalah
ketidakmampuan tubuh untuk berkeringat secara normal.
Saat tidak
berkeringat, maka tubuh tidak bisa mendinginkan diri sehingga menyebabkan panas
tubuh berlebih yang berpotensi fatal.
Anhidrosis
– kadang-kadang disebut hipohidrosis – merupakan kondisi yang sulit didiagnosa.
Anhidrosis ringan bahkan sering tidak disadari.
Sejumlah
faktor dapat menyebabkan kondisi ini, termasuk trauma kulit, penyakit, dan
obat-obatan tertentu.
Gejala
Tanda
dan gejala anhidrosis meliputi:
–
Sedikit atau tidak berkeringat sama sekali
– Pusing
– Kram otot atau kelemahan
– Merasa panas
– Pusing
– Kram otot atau kelemahan
– Merasa panas
Kurangnya
keringat dapat terjadi pada:
–
Sebagian besar bagian tubuh
– Satu bagian tubuh tertentu
– Tersebar acak di beberapa bagian tubuh
– Satu bagian tubuh tertentu
– Tersebar acak di beberapa bagian tubuh
Daerah
yang tidak terpengaruh mungkin mencoba mengkompensasi kondisi ini dengan
memproduksi lebih banyak keringat, sehingga sangat mungkin sebagian tubuh
berkeringat sedangkan sebagian yang lain tidak berkeringat sama sekali.
Anhidrosis
yang mempengaruhi sebagian besar tubuh akan mencegah pendinginan, sehingga
olahraga, aktivitas fisik, dan cuaca panas bisa memicu kram, kelelahan, dan
heatstroke (serangan panas).
Anhidrosis
dapat timbul sebagai gangguan tunggal atau merupakan tanda dan gejala gangguan
lain, seperti diabetes, neuropati, atau psoriasis.
Penyebab
Anhidrosis
terjadi ketika kelenjar keringat berhenti bekerja. Kondisi ini bisa disebabkan
oleh berbagai faktor, di antaranya:
1.
Kerusakan saraf
Sistem
saraf otonom mengatur berbagai otot tak sadar seperti pencernaan, detak
jantung, tekanan darah, dan suhu tubuh.
Cedera
saraf yang mengendalikan berbagai sistem tersebut dapat mempengaruhi fungsi
kelenjar keringat.
Beberapa
penyakit yang bisa merusak saraf otonom, termasuk:
–
Sindrom Ross atau gangguan saraf perifer
– Diabetes
– Alkoholisme
– Penyakit Parkinson
– Multiple system atrophy atau gangguan neurodegeneratif progresif
– Amiloidosis yang disebabkan oleh penumpukan protein amiloid dalam organ tubuh
– Sindrom Sjogren, yang menyebabkan mata dan mulut kering
– Kanker paru-paru sel kecil
– Gangguan metabolisme langka, seperti penyakit Fabry
– Sindrom Horner, yang merusak saraf di wajah dan mata
– Diabetes
– Alkoholisme
– Penyakit Parkinson
– Multiple system atrophy atau gangguan neurodegeneratif progresif
– Amiloidosis yang disebabkan oleh penumpukan protein amiloid dalam organ tubuh
– Sindrom Sjogren, yang menyebabkan mata dan mulut kering
– Kanker paru-paru sel kecil
– Gangguan metabolisme langka, seperti penyakit Fabry
– Sindrom Horner, yang merusak saraf di wajah dan mata
2.
Kerusakan kulit
Kerusakan
kulit disebabkan oleh dua hal, yaitu:
–
Saluran keringat yang tersumbat
Penyakit
kulit atau kondisi yang menghambat saluran keringat (poral oklusi) adalah
penyebab paling umum dari anhidrosis.
–
Luka kulit
Cedera
fisik pada kulit, terutama luka bakar parah, secara permanen dapat merusak
kelenjar keringat.
3.
Obat-obat tertentu
Banyak
obat – seperti obat untuk jantung dan tekanan darah, kontrol kandung kemih,
mual, dan kondisi kejiwaan – dapat mengurangi produksi keringat.
Keringat
biasanya kembali normal ketika konsumsi obat dihentikan.
4.
Faktor genetik
Beberapa
kelainan genetik menyebabkan kelenjar keringat tidak berfungsi.
Hypohidrotic
ectodermal dysplasia, sebuah kelainan bawaan, menyebabkan tubuh hanya membentuk
sedikit kelenjar keringat.
5.
Dehidrasi
Dehidrasi
terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup cairan untuk melakukan fungsi normal.
Dalam
kasus yang paling serius, dehidrasi dapat mengganggu kemampuan seseorang untuk
berkeringat.
Dehidrasi
bisa disebabkan oleh:
–
Diare dan muntah
– Demam yang sangat tinggi
– Keringat berlebihan tanpa mengganti cairan yang hilang
– Peningkatan frekuensi buang air kecil – sering sebagai akibat dari diabetes mellitus atau diabetes insipidus
– Alkohol dan obat-obatan tertentu, seperti diuretik, antihistamin, obat tekanan darah, dan beberapa obat-obatan psikiatri
– Demam yang sangat tinggi
– Keringat berlebihan tanpa mengganti cairan yang hilang
– Peningkatan frekuensi buang air kecil – sering sebagai akibat dari diabetes mellitus atau diabetes insipidus
– Alkohol dan obat-obatan tertentu, seperti diuretik, antihistamin, obat tekanan darah, dan beberapa obat-obatan psikiatri
Faktor
Risiko
Beberapa
faktor risiko yang membuat seseorang lebih rentan mengalami anhidrosis antara
lain:
1.
Umur
Semakin
umur bertambah, semakin berkurang kemampuan tubuh untuk memproduksi keringat.
2.
Masalah kesehatan tertentu
Setiap kondisi kesehatan yang merusak saraf otonom akan membuat masalah kelenjar keringat lebih mungkin terjadi.
Diabetes
adalah salah satu kondisi umum yang menyebabkan kerusakan saraf, sedangkan
sejumlah penyakit lain bisa merusak saraf dan kelenjar keringat sekaligus.
3.
Gangguan kulit
Berbagai
penyakit yang memicu iritasi pada kulit juga mempengaruhi kelenjar keringat.
Anhidrosis
mungkin terjadi mengiringi sejumlah gangguan kulit, termasuk psoriasis dan
dermatitis eksfoliatif.
4.
Kelainan genetik
Mutasi
pada gen tertentu dapat menyebabkan gangguan yang mempengaruhi kelenjar
keringat.[
